Ikuti Kami di :            

Lembaga Pusat Informasi dan Pangkalan Data

Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF INOVASI PENDIDIKAN MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA 2045

February, 26 2019 09:19
E-LEARNING SEBAGAI ALTERNATIF INOVASI PENDIDIKAN MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA 2045
Oleh admin LPIPD

Rafiud ilmudinulloh/Prodi S2 TP PPs UNY

Kesuksesan negara-negara barat membangun peradaban tak lepas dari peran sentral pendidikan dalam membentuk karakter, watak, dan mental bangsanya melalui pembekalan keilmuan dan keterampilan yang dibutuhkan disepanjang zaman (Sanyata, 2003). Hal tersebut kemudian menginspirasi beberapa negara berkembang, seperti Indonesia, untuk memodifikasi dan mengadaptasi keberhasilan sistem pendidikan yang selanjutnya disesuaikan dengan nilai, budaya dan kearifan lokal setempat. Arah dan tujuan pendidikan nasional bersifat dinamis menyesuaikan dengan tuntutan dan tantangan di zamannya, hal itu dapat dilihat dari perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi. Pendidikan nasional hari ini diminta untuk menjawab tantangan di tahun 2045, yang mana diprediksikan Indonesia akan mengalami peningkatan usia produktif/bonus demografi (15-60 th), sehingga apabila berhasil dioptimalkan akan bisa bersaing dengan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, India dan Cina  dalam bidang ekonomi di empat sektor yakni, jasa, pertanian, perikanan dan energi (Survey Mckinsey Global Institute dalam Dongoran, 2014).

Kemendikbud melalui grand desain generasi emas 2045 dalam rangka menyambut 100 tahun Indonesia merdeka telah merumuskan peranan pendidikan melalui perluasan akses pendidikan di semua jenjang, gerakan paudnisasi, dan pembangunan karakter anak bangsa melalui kurikulum (Kompas, 2012). Jika melihat progres pendidikan nasional sejak dicanangkan oleh Mentri pendidikan saat itu (Muhammad  Nuh) pada tahun 2012, selama ± ½ dekade ini  belum banyak perubahan dan pembenahan dalam dunia pendidikan terkait persoalan kualitas dan mutu pendidikan. Masih terjadi ketimpangan terhadap peranan pendidikan formal, informal dan non formal, tanggung jawab pendidikan masih bertumpu pada pendidikan formal. Sedangkan pendidikan formal sendiri masih membutuhkan banyak perbaikan dan pembenahan secara kuantitas dan kualitas. Perlu adanya kebijakan tegas untuk berani menjemput inovasi-inovasi pendidikan dalam bidang teknologi guna meretas permasalah pemerataan, akses, efisiensi dan efektifitas pendidikan. Salah satu upaya yang telah dan sedang dikembangkan oleh para pakar dibidang teknologi pembelajaran sebagai disiplin ilmu adalah menciptakan sebuah sistem pembelajaran yang mengelola kegiatan belajar, siswa, guru dan sumber belajar melalui kemampuan teknologi.

Kemampuan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengorganisasi, menyajikan dan mendistribusi informasi digital telah menghasilkan apa yang disebut dengan Virtual Learning dalam dunia pendidikan. Virtual  Learning merujuk pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas maya dan bertujuan untuk mengatasi permasalah ruang dan waktu (Jarak) dengan menyediakan bahan ajar dalam situs internet (Pannen, 1999). Konsep tersebut memiliki prinsip utama yakni, otoritas dan kolaborasi. Jadi setiap peserta didik memiliki otoritas untuk menentukan materi, mengakses sumber belajar, dan mengatur waktu dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kolaboratif berarti bahwa setiap peserta didik dituntut untuk berinteraksi dengan guru, tutor, sumber belajar dan teman sejawat (Julaeha, 2017).  Virtual learning secara terminologi adalah pembelajaran yang diselenggarakan dalam lingkungan online/virtual/maya sebagai sebuah cara untuk menghubungkan siswa, guru dan sumber belajar yang terpisah oleh ruang dan waktu (http://core-ed.org, 27-09 2017 pukul 12.59 wib). Istilah ini mempelopori munculnya istilah popular e-learning yang kemudian lebih familiar dikalangan praktisi pendidikan (Darmawan, 2014). Kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian untuk memberikan persepsi yang sama terhadap maksud yang diinginkan. Namun jelas terdapat perbedaan antara kata virtual dengan elektornik, karena yang vitual sudah pasti elektornik dan yang elektornik belum tentu virtual. ASTD (The American Society for Training dan Devlopment) mendefinisikan e-learning sebagai proses penerapan pembelajaran secara elektornik berdasarkan komponen-komponen tertentu seperti, pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer-based learning), kelas virtual (virtual class), atau kelas digital (digital class) yang dihantarkan melalui internet, intranet, tape video-audio, penyiaran melalui satelit  atau pertelivisian (Rusman, 2011).

Beberapa kampus dan universitas mulai mengadopsi sistem e-learning dengan tujuan memberikan akses pendidikan kepada mahasiswa yang tidak bisa bertemu dalam satu ruangan seperti pada kelas tradisional (Bonk, 2002;Owston, 1997). Inisiatif tersebut juga berlaku bagi mereka yang tinggal didaerah terpencil, yang tidak bisa meninggalkan keluarga dan pekerjaan, dan yang sedang melakukan perjalanan jauh untuk kepentingan pekerjaan (Symonds, 2001). E-learning memiliki beberapa rujukan model pembelajaran dalam pengaplikasiannya salah satu diantaranya, community of Inquiry (CoL) yang menekankan pada tiga kehadiran komponen yakni pengetahuan, pengajaran dan sosialisasi (Garrison, Anderson, & Archer, 2000). Model ini menyediakan lingkungan dimana guru dan siswa dapat berbagi ide, informasi dan opini (Picciano, 2017). Hal tersebut menurut  Siahaan  (2003) sesuai dengan fungsi dan peranan e-learning dalam proses pembelajaran yakni sebagai suplemen (tambahan), yang sifatnya opsional (pilihan), komplemen (pelengkap) dan subtitusi (pengganti). Optimalisasi fungsi dan peranannya akan memberikan manfaat dalam meningkatkan produktifitas, mempercepat proses inovasi, efisiensi dan fleksibelitas, dan interaksi sosial (Kamarga, 2003).

Efektifitasas dan produktifitas e-learning telah dibuktikan oleh Mu’arif & Surjono (2016) dalam penelitian pengembangan e-learning berbasis pendekatan ilmiah pada mata pelajaran IPA di SMP Negeri 5 Yogyakarta dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan e-learning. Berdasarkan analisis terhadap penigkatan hasil belajar siswa diperoleh rata-rata pretest 78,82 dan rata-rata posttest 94,41. Setelah dianalisa tedapat selisih rata-rata sebesar 15,59. Lebih jauh, Herlianak, S,A & Surjono (2014) melakukan eksperimen untuk membandingkan dua kelas, kelas pertama menggunakan e-learning dan kelas kedua menggunakan power point. Berdasarkan pretest dan posttest yang dilakukan terhadap kedua kelas tersebut, maka diperoleh hasil sebagai berikut : kelas e-learning rerata pretest 60 dan rerata posttest 83, kelas power point rerata pretest 59 dan rerata posttest 74. Terjadi kenaikan rerata sebesar 24 pada kelas e-learning dan rerata 15 pada kelas power point.

Dalam spektrum yang berbeda Brewer, L Rick & Grodin, K.A, (2017) meneliti perpustakaan digital online kepada mahasiswa bisnis yang dijadikanya sebagai sampel. Mahasiswa diminta untuk berpartisipasi dalam survey online. Survey bertujuan untuk mengukur kegunaan, kepusaan, dan pontensi untuk menggunakan fasilitas tersebut. Hasil penelitian yang diperoleh adalah seluruh sampel merasa puas dengan pelayanan yang diberikan melalui perpustakaan online. Dengan catatan, terdapat beberapa komponen yang perlu diperbaiki seperti panduan penggunaan, efektifitas dan efisiensi program.

Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut. Pertama, e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara online. Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan konten dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat, kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar konten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa dan pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.

E-learning secara tidak langsung mampu membentuk karakter/sikap  jujur, mandiri dan bertanggung jawab dalam diri siswa.  Karena guru dan e-learning hanya sebatas pendukung fasilitas belajar, siswa sendirilah yang menemukan dan memecahkan permasalah melalui tahapan-tahapan yang telah dirumuskan. Karakter/sikap diatas merupakan bagian dari 18 karakter yang harus dimiliki generasi emas 2045 dalam grand desain pendidikan karakter (Kemendiknas, 2012).

Generasi emas adalah suatu bentuk kaderisasi generasi-generasi Indonesia yang genius dan unggul dalam iptek yang ditopang nilai-nilai Pancasila dan UUD sebagai jati diri bangsa dalam bertindak. Pemberlakuan istilah ini adalah keadaaan angkatan generasi yang baru hadir sekarang yang ditempa untuk menjadi generasi-generasi jenius dimasa yang akan datang (Dongoran, 2014).

Karakter generasi emas 2045 berlandaskan IESQ meliputi empat dimensi, pertama sikap positif terhadap nilai Pancasila dan kemanusiaan dan sikap efektifyang dikembangkan dalam kegiatan intra dan extra kulikuler, kedua poa pikir esensial menggunakan pendekatan esensial dalam menyelesaikan masalah dan tugas-tugas kehidupan, ketiga komitmen normatif yakni kesetiaan dan kesediaan berkorban untuk institusi dan bangsa, keempat kompetensi abilitas, menjalankan tugas professional sebagai seni (Manullang, 2013).

E-learning pada saat sekarang ini dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan sekaligus sebagai media strategis dan metode pembelajaran aktif,  kreatif,  inovatif dalam menciptakan manusia unggul yang berilmu dan beriman manpu mengatasi tantangan global serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Silahudin, 2015).

 

source: http://learntech.blogs.uny.ac.id/2017/09/30/e-learning-sebagai-alternatif-inovasi-pendidikan-menuju-generasi-emas-indonesia-20455/